"Is this the world we created?..."
-Queen-
BUSWAY berhenti tepat di depan Bundaran HI. Senja menaungi langit kelabu Jakarta. Warna biru tua kelabu berubah menjadi keemasan. Pintu masuk bis sangat susah ditembus. Puluhan calon penumpang berwajah kamar mandi, senyum istri, pelukan suami, jeritan anak, rayuan pacar, kerling selingkuhan, bahkan berwajah nasi goreng, berjejalan memasuki bus yang sudah penuh sesak.
Beberapa calon penumpang masih tertinggal di boks busway. Suara orang nomer satu Ibukota, menyambut penumpang turun. Sementara, petugas keamanan berusaha memamerkan muka wibawa. Tapi, justru bibir monyong seorang ibu yang ia dapati. Pasalnya, hidung bengkok si Ibu terkena sikut sang petugas, entah sengaja atau kesengajaan tersamar.
Petugas tiket nampak memberikan ceramah kepada seorang calon penumpang tentang pentingnya uang pas. Sedangkan, sang calon penumpang terlihat menancapkan pandang pada belahan blouse seorang calon penumpang perempuan yang sibuk dengan sms di ponselnya. Hanya sebuah koran nasional nomer dua –dilihat dari gengsi maupun pendapatan iklannya- bertanggal kadaluarsa, mengangguk-angguk sendiri dihembus air conditioner ruangan.
Bau parfum menyeruak diantara berbagai sosok, bercampur baur; Channel, Dior, CK, Etternity, Bvlgary, sampai parfum murahan yang tak jelas mereknya. Bau minyak angin seolah tak mau kalah, sikut kiri-kanan menyingkirkan bau parfum occidental asal negerinya Albert Camus, Locke, dan tuan Bush Jr. Pusing memang, tapi setidaknya lebih baik ketimbang bau keringat atau knalpot.
Sementara itu, pemandangan sama terlihat di seberang jalan, baik kiri maupun kanan. Calon penumpang bus reguler, AC, patas biasa, maupun metromini dan kopaja, tampak berjejalan di shelter bus. Tiga orang calo penumpang, dengan bangga memperlihatkan koleksi dagangannya; para calon penumpang. Beberapa mobil taxi dengan malu-malu menggoda calon-calon penumpang tersebut dengan iming-iming tarif lama.
Tak kalah gencar, para pedagang asongan menjajakan tisue, air mineral, sampai rokok dan permen. Penjaja koran layaknya pastor, memberikan ceramah tentang ayat-ayat di headline surat kabar sore. Sedangkan surat kabar pagi mereka tawarkan dengan harga banting. Sesekali bus berhenti mengangkut calon penumpang, meninggalkan uang receh pada calo sebagai pembayaran atas ‘barang dagangan' mereka.
Gedung-gedung memamerkan kulit keemasan hasil sepuhan mentari senja. Demikian pula halnya air mancur seharga satu miliar di bundaran, turut berwarna emas tersorot lampu yang mulai menyala. Satu-persatu lampu jalanpun mulai berkedip. Melambaikan sinarnya, melepas surya yang beranjak ke peraduan malam.
Berbeda dengan penghuni boks busway lainnya, seorang gadis tampak berdiri di ujung boks. Ia tak menghadap pintu keluar masuk penumpang, malah berdiri di belakang rak koran nomer dua, menghadap kearah air mancur kebanggaan orang nomer satu ibukota. Rambut hitam panjangnya terurai menyelimuti punggung dan pinggangnya. Kedua telapak tangannya menempel pada kaca boks, sedang tas kecilnya yang berwarna merah muda tergantung di bahu, menyelip di ketiak kanannya.
Sebuah jepit perak, berkilau memantulkan sinar mentari, terselip di rambut sisi kiri kepalanya. Cardigan berwarna pink, terbuat dari bahan wol, membalut tubuhnya secara ketat. Rok pendek berwarna hitam semakin menegaskan putihnya warna kulit paha dan betisnya. Sebuah stiletto berbahan plastik transparan menyangga kaki munggilnya. Bak seorang malaikat, hendak terbang memeluk patung selamat datang di atas tugu di tengah air mancur bundaran.
"Aku sangat suka senja!"
Sebuah suara mezzo sofran tiba-tiba menyembul dari balik rambut hitam tebal tersebut. Bak hymne senja, sekejap memuja keindahan gambar dengan dominasi warna emas.
Kerumunan calon penumpang seolah tak tersentuh merdunya hymne. Mereka lebih terfokus pada hiasan yang menempel di wajah-wajah mereka, terbius dan mabuk gado-gado parfum dan minyak angin. Petugas satpam semakin mantap dengan aksi ‘kharismatik'-nya. Sementara petugas tiket tampak jengkel memandang wajah calon penumpang yang sedang mengira-ngira ukuran beha seorang calon penumpang perempuan yang masih sibuk dengan sms di ponselnya.
"Di sini, aku lebih suka senja daripada pagi hari! Aku ingin membingkai senja ini untuk dipasang di kamarku! Aku ingin senja ini tak berakhir. Aku sangat suka senja!"
Hymne senja dari balik rambit hitam terurai, kembali terdengar. Namun, suara mezzo sofran tersebut tetap tak berefek. Layaknya detak jam weker, dianggap tak ada, tak perlu didengar, tak berguna, dan tak bermakna. Hanya koran nomer dua, seperti mengamini, mengangguk-anguk tertiup air conditioner boks busway.
Tiba-tiba sebuah lagu khas ponsel produk Finlandia bergaung nyaring di dalam boks busway. Sontak beberapa orang meraba saku, ada yang membuka tasnya, ada yang melihat gantungan kalungnya, ada pula yang hanya diam tak bergeming.
Sang Gadis melepaskan telapak tangannya dari kaca. Ia meraih tas kecilnya yang berwarna merah muda.
"Iya Mas,... iya... aku lagi on the way home kok!... Bye!"
Para calon penumpang kembali tenang. Perhatian mereka kembali tertuju pada pada pintu otomatis. Sementara pikiran mereka tetap pada hiasan di wajah mereka. Orang nomer satu masih membanggakan programnya dari layar datar televisi.
Sebuah bus berwarna oranye berhenti di depan pintu. Beberapa orang penumpang turun diatur petugas keamanan. Para calon penumpangpun berebutan memasuki bus. Seperti refleks, sang gadis ber-cardigan pink menyelinap di antara para calon penumpang. Seorang pria setengah baya nampak berusaha gentle memberinya jalan. Sang gadis hanya mengangguk dan menyelipkan senyum dari bibir berpulas merah darah, di wajahnya.
Hanya berselang detik, buspun kembali melaju ke arah jalan Jenderal Besar Sudirman. Senja semakin lemah menebar cahaya keemasan. Hanya beberapa buah awan masih menyimpan kejayaannya. Tinggalah malam, kebingungan dituduh lampu jalanan. Merindukan hymne yang hanya dimiliki senja. Menyembunyikan gemintang, ditindas semburat cahaya lampu ibu kota.
abdisalira©030605
Pour la nuit passeur
Di saung iyeu yang dibahas hanya masalah pemikiran, budaya, lingkungan, sepak bola, dan segala kereteug yang berguna bagi kehidupan manusia. Jikalau anda kurang puas dengan comment space, atau ada ide untuk dititipkan di blog ini, kirim e-mail ke abdi_salira@yahoo.com
Jumat, Juni 03, 2005
Kamis, Juni 02, 2005
Testify
"Aku adalah nada Do pada lagu bisu"
Bukan! Kamu adalah kebisingan di stasiun kereta
"Aku hadir tatkala semua pergi"
Tidak, kamu hanya teman dalam permusuhan
"Aku masuk melalui pintu belakang, merangkak di angkasa, menyelinap di kepadatan manusia, mengendap di jalan raya, aku ditemukan setiap kehilangan"
Bohong! Hanya orang gila membiarkan kamu masuk.
"Akulah sumber inspirasi"
Justru kamu menginjak imajinasi, mendera kreatifitas
"Karya-karya besar merupakan anak cucuku"
Aku muak menyanggamu
"Keindahan menjadi intiku"
DIAAAM!
"..."
Itulah kamu
030605
Pour la nuit passeur
Rabu, Juni 01, 2005
Obituari
UDARA Jakarta siang ini sangat panas. Matahari seperti hendak mengorek isi kepala. Sementara Jalan Medan Merdeka Barat tampak dipadati kendaraan; dari bus hingga sepeda motor berteriak-teriak sambil mengepulkan asap putih, hitam, abu-abu dengan bonus, tentu saja, bau dan debu. Rimbun pepohonan menjadi tak berarti dikurung udara panas dari hotmix jalan yang terbakar.
Memasuki boks halte bus trans Jakarta, suasana bising sedikit berkurang. Suara pidato orang nomer satu di kota ini mencoba menyelinap diantara desau pintu otomatis. Seorang pria teronggok di sudut ruangan, diatas kursi lipat. Terkantuk-kantuk dalam seragam biru tuanya, menatap kosong kearah tugu tinggi bertopi emas.
Seorang perempuan di boks kasir tampak kebingungan memilih goreng pisang atau bolu kukus, harus ia jejalkan kemulutnya. Sementara suara sang nomer satu masih berapi-api mengelukan keberhasilannya membangun sistem transpor masal di Ibu kota ini. Hanya seberkas koran –penghuni papan dua di barisan koran nasional dilihat dari tiras maupun pendapatannya- tampak terangguk-angguk dihembus air conditioner yang terletak tepat di belakang layar televisi.
Sesekali terdengar jeritan peluit dari mulut seorang polisi gemuk di kejauhan, dibarengi lambaian tangannya yang entah buat apa. Di sisi kiri jalan, beberapa orang karyawan dan pedagang asongan tampak bergerombol di shelter bus. Seperti debu, sesekali menghilang tersedot bus baik patas, ekonomi, ac, atau metromini dan kopaja, tapi kembali orang berikutnya berdatangan. Hingga shelter itu selalu padat dipadati debu berserakan, debu berbentuk manusia.
Dari kejauhan nampak dua metromini berkejaran bak dua srigala murka beradu kesaktian. Saling gigit, saling cakar, tak lupa mengepulkan asap hitam dari ekor-ekornya, menambah seru jalannya adu digjaya. Dari belakang metromini satunya berkoar-koar dengan klaksonya, mengancam metomini satunya menyerah.
Setelah sukses menyusul, metromini tersebut memepet lawannya hingga keduanya berhenti. Para penumpangnya berhamburan keluar, sementara kernetnya menghalau penumpang untuk pindah bis. Tak lupa, ia mengamini sang sopir yang sedang menghapal nama penghuni kebun binatang. Nampaknya, metromininya kurang penuh, sehingga di-over ke lawannya yang telah padat hingga para penumpang pun overload, bergantungan di depan pintu. Sebuah pemandangan biasa di kota berpenduduk delapan juta lebih ini.
Desau pintu otomatis menghancurkan imaji absurd di kepala. Sesosok permpuan dengan rambut hitam kelam, panjang terurai menggelitik pinggang yang ramping terbalut blazer gading. Sepasang mata beningnya tampak bergerak kanan-kiri, menyapu boks busway yang masih saja membisu. Detak stileto berdentang teratur mengiringinya menuju sudut lain boks. Ia berdiri tepat di samping petugas satpam yang masih saja terlena dalam mimpinya.
Ia tidak berjalan menuju boks petugas karcis, malah berdiri memeluk map merah darah erat-erat. Sesekali melihat ke arah pintu sambil diselingi pandangan kearah jam. Sungguh aneh, empat orang manusia, tapi tak ada interaksi satu sama lain.
Tiba-tiba suara Sting melengking menyanyikan Shape of My Heart-nya melalui ponsel digenggaman sang perempuan.
"Halo mas.. Iya, aku masih di jalan, macet nih...."
"Ga! Ga usah, biar aku sendiri aja. Nanti kita ketemu di rumah saja!..."
"Paling aku pulang agak malam, soalnya ada acara bareng ibu-ibu kantor.
Nanggung kalo pulang dulu.... Iya, suruh bibi nyiapin makan buat anak-anak! Salam buat mereka ya, (ia menggigit bibir merahnya).. makasih ya Mas."
Jemari munggil perempuan itu sigap mematikan dan memasukan ponsel ke dalam tasnya.
Kembali ia melihat ke kiri-kanan, terus menatap pintu, kembali melihat jam. Nampak tak sabar, rupanya sedang menanti seseorang.
Lima menit berlalu, suasana boks tetap sunyi. Hanya suara orang nomer satu kembali mengulang pidatonya. Sesekali terdengar gesekan hak sang perempuan. Mengambil bedak, mengoleskan sedikit ke dagu munggil di bawah bibir merah menyala yang merekah, digigit giginya yang putih teratur. Setelah puas membenahi dandanan, ia kembali tampak gelisah.
Mengambil ponsel, menyalakan, kemudian mematikan kembali. Tak tahu apa yang harus dilakukan, ia mnyimpan kembali ponselnya. Map merah ia selipkan di sela lutut, kemudian meraih jepit hitam yang membelenggu rambut panjangnya. Menjepit pangkalnya, menyisakan poni, tapi menggerai rambut bagian belakangnya, memamerkan leher jenjang menggoda. Setelah puas dengan susunan rambutnya, ia kembali mengamati jam tangannya. Masih belum tiba...
Sontak bibir merah itu merekah, menebar senyum. Riak mata berbinar, melecut stileto melangkah menjelang pintu otomatis.
"Kok telat sih Say, aku udah nunggu dari tadi," ujarnya dengan nada sopran manja.
Rupanya seorang pria separuh baya, telah berdiri dibalik pintu yang terbuka. Mereka berpelukan sekejap. Sang pria tak mengeluarkan sepatahpun, hanya menggandeng pundak perempuan. Mereka berjalan menyeberangi jalan kearah sebuah Kawasaki Ninja yang diparkir di ujung zebra cross.
Pria itu mengenakan helm, menghidupkan mesin dan menunggu. Sedangkan perempuan berambut hitam panjang, mengenakan helm terbuka dan duduk menyamping, memeluk punggung sang pria. Ninja berderum-derum mengepulkan asap putih. Sekali tarikan, mereka melesat menuju arah Bunderan HI.
Boks busway kembali sunyi, orang nomer satu kembali mengulang pidatonya. Sementara petugas satpam masih terlena di sudut boks. Tapi, petugas karcis tampaknya sudah menemukan jawaban. Ia membuang seluruh makanan untuk mulai membuka koran nomer dua yang tergantung di bawah televisi.
Dari kejauhan, sebuah bus oranye mendekati. Ia berhenti tepat di depan pintu, mengejutkan petugas satpam. Desau pintu otomatis menjadi tanda bagi segerombolan penumpang yang menuruni bus. Akan tetapi, di dalam bus tetap saja penuh. Orang-orang bergelantungan, sedangkan lainnya terkantuk-kantuk di tempat duduk. Bus bergerak, meninggalkan petugas satpam yang menguap menahan kantuk dan petugas karcis yang tenggelam di halaman humaniora koran nomer dua.
310505
Memasuki boks halte bus trans Jakarta, suasana bising sedikit berkurang. Suara pidato orang nomer satu di kota ini mencoba menyelinap diantara desau pintu otomatis. Seorang pria teronggok di sudut ruangan, diatas kursi lipat. Terkantuk-kantuk dalam seragam biru tuanya, menatap kosong kearah tugu tinggi bertopi emas.
Seorang perempuan di boks kasir tampak kebingungan memilih goreng pisang atau bolu kukus, harus ia jejalkan kemulutnya. Sementara suara sang nomer satu masih berapi-api mengelukan keberhasilannya membangun sistem transpor masal di Ibu kota ini. Hanya seberkas koran –penghuni papan dua di barisan koran nasional dilihat dari tiras maupun pendapatannya- tampak terangguk-angguk dihembus air conditioner yang terletak tepat di belakang layar televisi.
Sesekali terdengar jeritan peluit dari mulut seorang polisi gemuk di kejauhan, dibarengi lambaian tangannya yang entah buat apa. Di sisi kiri jalan, beberapa orang karyawan dan pedagang asongan tampak bergerombol di shelter bus. Seperti debu, sesekali menghilang tersedot bus baik patas, ekonomi, ac, atau metromini dan kopaja, tapi kembali orang berikutnya berdatangan. Hingga shelter itu selalu padat dipadati debu berserakan, debu berbentuk manusia.
Dari kejauhan nampak dua metromini berkejaran bak dua srigala murka beradu kesaktian. Saling gigit, saling cakar, tak lupa mengepulkan asap hitam dari ekor-ekornya, menambah seru jalannya adu digjaya. Dari belakang metromini satunya berkoar-koar dengan klaksonya, mengancam metomini satunya menyerah.
Setelah sukses menyusul, metromini tersebut memepet lawannya hingga keduanya berhenti. Para penumpangnya berhamburan keluar, sementara kernetnya menghalau penumpang untuk pindah bis. Tak lupa, ia mengamini sang sopir yang sedang menghapal nama penghuni kebun binatang. Nampaknya, metromininya kurang penuh, sehingga di-over ke lawannya yang telah padat hingga para penumpang pun overload, bergantungan di depan pintu. Sebuah pemandangan biasa di kota berpenduduk delapan juta lebih ini.
Desau pintu otomatis menghancurkan imaji absurd di kepala. Sesosok permpuan dengan rambut hitam kelam, panjang terurai menggelitik pinggang yang ramping terbalut blazer gading. Sepasang mata beningnya tampak bergerak kanan-kiri, menyapu boks busway yang masih saja membisu. Detak stileto berdentang teratur mengiringinya menuju sudut lain boks. Ia berdiri tepat di samping petugas satpam yang masih saja terlena dalam mimpinya.
Ia tidak berjalan menuju boks petugas karcis, malah berdiri memeluk map merah darah erat-erat. Sesekali melihat ke arah pintu sambil diselingi pandangan kearah jam. Sungguh aneh, empat orang manusia, tapi tak ada interaksi satu sama lain.
Tiba-tiba suara Sting melengking menyanyikan Shape of My Heart-nya melalui ponsel digenggaman sang perempuan.
"Halo mas.. Iya, aku masih di jalan, macet nih...."
"Ga! Ga usah, biar aku sendiri aja. Nanti kita ketemu di rumah saja!..."
"Paling aku pulang agak malam, soalnya ada acara bareng ibu-ibu kantor.
Nanggung kalo pulang dulu.... Iya, suruh bibi nyiapin makan buat anak-anak! Salam buat mereka ya, (ia menggigit bibir merahnya).. makasih ya Mas."
Jemari munggil perempuan itu sigap mematikan dan memasukan ponsel ke dalam tasnya.
Kembali ia melihat ke kiri-kanan, terus menatap pintu, kembali melihat jam. Nampak tak sabar, rupanya sedang menanti seseorang.
Lima menit berlalu, suasana boks tetap sunyi. Hanya suara orang nomer satu kembali mengulang pidatonya. Sesekali terdengar gesekan hak sang perempuan. Mengambil bedak, mengoleskan sedikit ke dagu munggil di bawah bibir merah menyala yang merekah, digigit giginya yang putih teratur. Setelah puas membenahi dandanan, ia kembali tampak gelisah.
Mengambil ponsel, menyalakan, kemudian mematikan kembali. Tak tahu apa yang harus dilakukan, ia mnyimpan kembali ponselnya. Map merah ia selipkan di sela lutut, kemudian meraih jepit hitam yang membelenggu rambut panjangnya. Menjepit pangkalnya, menyisakan poni, tapi menggerai rambut bagian belakangnya, memamerkan leher jenjang menggoda. Setelah puas dengan susunan rambutnya, ia kembali mengamati jam tangannya. Masih belum tiba...
Sontak bibir merah itu merekah, menebar senyum. Riak mata berbinar, melecut stileto melangkah menjelang pintu otomatis.
"Kok telat sih Say, aku udah nunggu dari tadi," ujarnya dengan nada sopran manja.
Rupanya seorang pria separuh baya, telah berdiri dibalik pintu yang terbuka. Mereka berpelukan sekejap. Sang pria tak mengeluarkan sepatahpun, hanya menggandeng pundak perempuan. Mereka berjalan menyeberangi jalan kearah sebuah Kawasaki Ninja yang diparkir di ujung zebra cross.
Pria itu mengenakan helm, menghidupkan mesin dan menunggu. Sedangkan perempuan berambut hitam panjang, mengenakan helm terbuka dan duduk menyamping, memeluk punggung sang pria. Ninja berderum-derum mengepulkan asap putih. Sekali tarikan, mereka melesat menuju arah Bunderan HI.
Boks busway kembali sunyi, orang nomer satu kembali mengulang pidatonya. Sementara petugas satpam masih terlena di sudut boks. Tapi, petugas karcis tampaknya sudah menemukan jawaban. Ia membuang seluruh makanan untuk mulai membuka koran nomer dua yang tergantung di bawah televisi.
Dari kejauhan, sebuah bus oranye mendekati. Ia berhenti tepat di depan pintu, mengejutkan petugas satpam. Desau pintu otomatis menjadi tanda bagi segerombolan penumpang yang menuruni bus. Akan tetapi, di dalam bus tetap saja penuh. Orang-orang bergelantungan, sedangkan lainnya terkantuk-kantuk di tempat duduk. Bus bergerak, meninggalkan petugas satpam yang menguap menahan kantuk dan petugas karcis yang tenggelam di halaman humaniora koran nomer dua.
310505
Langganan:
Postingan (Atom)