Selasa, Juli 12, 2005

Pertanyaan


Image hosted by Photobucket.com


DERAK suara air hujan menimpa atap yang terbuat dari bahan seng. Bunyinya berdentang bak suara simbal beradu tanpa ada ujung. Mentari terkantuk-kantuk diufuk timur, enggan bersabda. Meski belum tiba ayam berkokok, tak ada jejak atau tapak dari larikan sinarnya yang biasanya mengelus cakrawala di pagi buta. Hujan masih saja menjejali mega dengan halilintar yang berkelit malu-malu.

Toh, waktu tetap tak mau kompromi. Ia menggusur jarum dan bandul jam untuk berdentang lima kali menanda subuh kan menjelang. Udara dingin berjingkat manja di permukaan Barito di sepanjang kampung orang Banjar. Akibatnya orang-orang turut bergelung manja, membuai asa dibungkus selimut yang semakin melekat disekeliling aurat.

Bagaimana mungkin bisa berjualan dalam hujan yang tak kunjung reda ini? Tapi bila tidak, apa kata istri nanti? Makan apa pula anak-anak? Masih banyak yang harus dipikirkan ketimbang menyesali hujan yang seharusnya menjadi rejeki ini. Dari jam empat, istriku sudah memasak wadai, menyiapkan gula, kopi, teh, dan susu. Semuanya telah siap. Tinggal aku membawanya menyusuri sungai, munuju pasar yang kian hari kian sepi.

Air sungai sepertinya tetap pasrah membisu. Meski tetesan hujan menuduh dan memprovokasinya. Warna kecoklatan seperti menjadi warna abadi, apalagi di musim hujan yang tidak pada tempatnya ini. Beberapa perahu terlihat didayung pengemudinya, beberapa lainnya terantuk-antuk didorong mesin kecil yang terletak di buritannya.

Di kedua sisi sungai, orang-orang masih jarang terlihat. Hanya beberapa orang perempuan tampak mencuci pakaian, beras, sayuran, bahakan ada yang sedang mandi atau sekedar mengambil air wudhu. Suara orang mengaji saling bersahutan dari surau yang banyak terdapat di pinggir aliran sungai Barito ini. Aku sendiri sudah beberapa lama lupa cara bersembahyang. Sehingga, malu aku menampakan hidung di surau atau mesjid tersebut. Perahu tetap kudayung menjelang pasar yang dulu terkenal karena menjadi jingle salah satu tv swasta nasional itu.

Para pedagang ikan telah banyak bergerombol di bawah haluan sebuah kapal tanker yang tengah menyuplai minyak ke kilang milik Pertamina. Mereka menjajakan berbagai hasil tangkapannya. Sementara para pedagang sayuran sejak subuh tadi sudah menunggu para penjaja sayuran yang datang membeli barang dari perahunya yang dijejali berbagai jenis sayur tersebut. Mereka membenamkan dirinya dalam sarung yang dibungkus plastik. Beberapa malah tampak masih terlelap dalam posisi jongkok di depan dagangannya.

“Kopi.. kopi.. teh manis dengan wadainya pak“

Teriakku mencoba menyingkap tirai kantuk para pedagang disela deru hujan menyiram air sungai. Beberapa orang menjawab dengan memperlihatkan telapak tangannya, sebagian hanya tersenyum, malah ada yang membuka matanya hanya untuk memandang kosong, mungkin belum terkumpul ‘nyawanya'.

Langit mulai menampakkan warna putih. Semburat sinar surya menerobos celah di gumpalan awan yang ber-‘demo' di cakrawala timur. Beberapa perahu datang, sebagian besar ialah ibu-ibu penjaja sayuran. Mereka membeli berbagai barang dari perahu-perahu besar, untuk mereka jajakan melalui sungai-sungai kecil yang masuk ke perkampungan.

Tampak pula berdatangan perahu-perahu angkutan karyawan pabrik. Mereka bertumpuk di atas perahu motor. Sedianya perahu itu akan membawa mereka ke tempat tiga buah cerobong asap, yang tak hentinya meniupkan asap hitam dari lubang-lubangnya. Di antara perahu penumpang yang berlalu-lalang, tampak sebuah perahu berisikan sepasang muda. Kilatan cahaya tak henti terlihat dari dalam perahu mereka. Nampaknya, turis yang tak ada kerjaan, ngotot mendatangi pasar di tengah hujan sambil berusaha mengambil gambar dengan kamera yang tentunya sia-sia.

Perahu tersebut melaju pelan, si pemuda menunjuk-nunjuk ke arahku, entah kenapa. Kemudian, perahu itu membelokkan arahnya meneju tepat ke arah perahuku. Ahh.. akhirnya, pembeli datang juga, lumayan sebagai penglaris.

Seorang pemuda kucel memakai jaket jean yang tak kalah kucel. Wajahnya seperti belum terkena air sejak bangun tidur dengan rambut gimbal yang berserakan menimpa jidat yang bopeng-bopeng bekas jerawat. Kumisnya tak berimbang antara kiri dan kanan, dan ia mengenakan anting yang sama sekali tak cocok dengan penampilannya.

Di samping pemuda tersebut, sedikit di belakang, seorang perempuan duduk memandangi silhuet pabrik dan pohon di timur. Ia mengenakan t-shirt merah cerah ketat, menonjolkan bentuk tubuh yang.. nyaris sempurna. Ia mengenakan celana jean pendek, juga ketat, sehingga terlihat betis putih dihiasi gengge terbuat dari perak dengan batu kecil-kecil berwarna hijau. Rambutnya ikal pendek, mempertontonkan leher jenjang dengan anting di kuping bagian atasnya. Meski hanya terlihat pipi, dari samping bisa dipastikan ia memeiliki paras jelita dengan bibir yang menggoda.

“Minta kopinya satu bang! Juga teh manis buat teman saya dan abang pengemudi!“

Si pemuda mulai memberikan perintah, saat aku tengah menambatkan taliku ke perahunya.

“Waah, kayaknya enak juga nih kue dan gorengan ini. Apalagi saat hujan gini, masih hangat kan Bang?“

Aku hanya mengangguk, enggan berujar. Sempat terlihat, perempuan muda itu masih juga terdiam memandang ke arah yang sama. Bak hidup di dunianya sendiri, kontras dengan temannya yang sangat cerewet ini.

“Oooh ngambil kuenya kayak gini ya Bang.“

Sang pemuda kembali berceloteh sambil mengangkat galah guna mengambil wadai. Sementara perempuan muda itu hanya terdiam, tangannya tak terlepas, erat memegang tiang perahu. Semakin erat pegangannya manakala perahu terguncang akibat ada perahu lain memuntahkan riak sungai ke arah perahu pasangan muda ini.

Sesekali tangannya menyibak rambut ikalnya yang nakal menggelitik dahinya yang putih mulus. Pandangannya menyapu tepian sungai, penuh rumah panggung kayu dengan hiasan orang-orang mandi di depannya. Sementara itu, pemuda kucel mulai beraksi mengarahkan kamera digitalnya ke setiap penjuru angin, mencoba mengabadikan pemandangan buram di pagi yang masih diguyur gerimis.

“AKU GA SUKA DI SINI! AKU MAU PULANG KE JAKARTA! POKOKNYA KITA HARUS PULANG HARI INI JUGA! AKU MAU PULANG!“

Suasana sendu dan monoton seperti meledak tatkala sang gadis tiba-tiba berteriak histeris. Bukan hanya aku, pengemudi perahu pasangan ini pun tampak mencoba menjaga keseimbangannya karena hampir melonjak sehingga membuat perahu oleng.

“Kenapa kamu Lis? Kan kita baru sampai, katanya kamu ingin melihat pasar terapung? Kok minta pulang?“

Si pemuda geragapan, mencoba menenangkan sang perempuan sambil mengelap tetesan kopi yang sempat menyiram dagu dan dadanya. Perempuan itu sekarang bercucuran air mata. Akan tetapi, tetesan air matanya semakin mempercantik parasnya. Bahkan, perahu yang bergoyang pun seperti terkesima, kembali diam, kembali tenang melihat wajah cantik yang sedang berduka itu.

“Pokoknya aku mau pulang... sekarang... kalau enggak..“

Jawab perempuan itu di sela isakannya. Si pemuda seperti kebingungan, ia mengelus rambut perempuan bernama Lis tersebut. Kemudian ia mengeluarkan dompet, menyerahkan selembar uang 50 ribuan dan menyerahkannya padaku.

“Maap bang. Ambil aja kembaliannya!“

Aku hanya terbengong, masih kaget oleh teriakan perempuan muda itu dan terpesona oleh kecantikannya yang entah kenapa, sedang dirundung duka. Suara pemuda itu seperti tak bersangkut di nalarku hingga tak ada sepatah kata meresponnya.

“Sudah Bang, kita balik lagi ke dermaga!“

Seru pemuda itu kepada pengemudi perahunya, bersamaan dengan upayaku melepas tali tambatan hanya untuk memahat pemandangan indah itu di kepala. Lumayan untuk jadi oleh-oleh di rumah. Menjadi bahan lamunan, mencari makna duka di wajah yang mempesona.

Perahu pasangan muda itu kembali melaju. Dari jauh terlihat, perempuan itu masih menangis dibuai elusan si pemuda. Tapi isakannya tertindas suara motor perahu. Semakin menciut perahu itu seiring jarak mendera pandang. Namun, suasana pasar sepertinya tetap tak terpengaruh. Malahan keramaian sudah mulai mengisi setiap sudut sungai. Beberapa teriakan pedagang menawarkan barangnya, diselingi deru motor dari perahu yang hilir mudik.

Bersamaan dengan itu, mentari mulai tersibak di antara awan. Cahayanya menerpa wajah yang sedari tadi ditempa angin dingin subuh. Meski menyilaukan, kehangatannya membuat perasaan tenang. Memang aneh, kenapa hal yang bisa membuat buta, justru memiliki kehangatan yang menenteramkan. Uang 50 ribu kukantongi, bukan hanya penglaris, tapi uang ini bisa menutupi modal jualanku hari ini. Meski begitu, kasihan istriku jika aku pulang membawa kembali semua wadai hasil kreasinya. Kudayung kembali perahu menuju keramaian pasar menyelusup di keabsurdan proses transaksi.

090705
Jakarta.

Selasa, Juli 05, 2005

Journal

Banyak orang harus dibangunkan
aku bernyanyi, menjadi saksi
--Kantata Takwa--

PERJANAN akan dimulai. Siapkan daypack, masukan
bekal, tancapkan harap, jernihkan pandang, tajam
memilah untuk nyaring berujar.

"Sekali berarti, sudah itu mati" begitu Anwar berkoar.
Jadikan bahan bakar, agar api tetap berkobar. Pergilah
menjelang mentari, mengecup rembulan, menjamah
Cakrawala.

050705

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Senin, Juli 04, 2005

Cubit-cubitan

Paciwit-ciwit lutung si lutung pindah ka luhur

ORANG Bandung, Tasik, Garut, Cianjur, dan orang sunda pada umumnya mungkin masih mengenal permainan ini. Dua atau lebih anak biasa memainkan permainan ini. Bertumpang tindih tangan, yang bawah pindah ke atas, dengan tentu saja saling mencubit. Setiap anak bergantian mencubiti tangan temannya, terus menerus sampai lagu berakhir.

Diakhiri dengan runtuhnya jalinan tangan tersebut, maka permainan itu dilanjutkan dengan saling gebug. Tak jarang ada anak sampai menangis kesakitan akibat tangannya kena gebuk kawan yang lain. Tapi, semua itu hanya permainan anak kecil, esok hari bila bersua lagi, permainan yang sama kadang dimainkan kembali.

Nuansa ini mungkin yang tampak pada kehidupan kita di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Orang-orang seperti mengharapkan giliran menjadi pengisi posisi tertinggi. Soalnya, di posisi tersebut, ia bisa mencubit tanpa harus tercubit. Tak jarang, proses menuju puncak ini harus melalui jalan bengkok yang diluruskan. Meluruskannya tentu saja, perlu dana, perlu kuasa, atau setidaknya kenal dengan orang berkuasa.

Sayangnya, permainan di dunia yang konon heibat dengan para pelautnya ini, tak mengenal giliran. Tak jarang, pemuncak permainan ini tak mau lagi turun kembali ke bawah. Ia dengan segala cara mencoba melestarikan posisinya itu. Alhasil, gejolak di bawah kadang bisa menruntuhkan jalinan yang ditata.

Bukan itu saja, menurut aturan berkelompok, seorang pemuncak otomatis mendapat jatah tanggung jawab yang puncak pula. Artinya, ia harus bisa memayungi orang-orang di bawahnya dari berbagai terpaan. Kadang, harus bisa menjadi penyeimbang manakala tatanan yang dibangun bergoyang. Tengok, bahkan ketika main gaple, karena berkelompok harus ada yang mengatur kartu. Ia bisa saja memainkan kartu sehingga pembagiannya bisa merata atau sebaliknya. Ia berkuasa atas kartu gaple di tangannya. Namun, kekuasaan ini dibarengi tanggung jawab sebagai pengocok kartu. Posisi ini di mata para pemain kartu merupakan posisi hina yang sering diperolok oleh teman-tamannya.

Nah, berbagai permainan yang sering dimainkan sejak kecil bahkan pada permainan yang dimainkan ketika dewasa pun memperlihatkan 'aturan main'. Gobloknya, atau kekurang tanggapan bangsa ini dalam menyerap makan tersirat dari hal-hal tersebut, menyebabkian kondisi yang ada sekarang ini. Kerap terdengar, ada ketua tak mau mundur, ada kandidat ketua yang tak mau mengaku kalah ketika lawannya menang.

Ok, itu bagian dari demokrasi, persaingan atau kompetisi bisa menghasilkan sesuatu yang lebih berbentuk ketimbang hasil yang keluar begitu saja (seperti tulisan ini). Akan tetapi, kenyataannya kondisi ini menjadikan pemuncak mabuk kemenangan. Ibaratnya, penyubit paling atas lupa menjaga keseimbangan, atau pembagi kartu lupa membagikan kartunya. Tak pelak lagi, permainan pun tak berjalan.

Nah, kondisi seperti itulah yang menjadi dekorasi setiap halaman depan surat kabar, dan kaca-kaca pada layar televisi. Ok, orang keluar sebagai pemenang, salut terpilih sebagai ketua, kepala, atau apapun, tapi pling dos jangan lupa pada tanggung jawabnya. Kalo tak bisa, ya, biarkan yang di bawah naik. Mundurlah secara terhormat, kan permaianan bisa berjalan. Kan kita jadi asik-asik aja kan.

;p rarieut ningali siobin ngetik wae, jadi ngikut ngetik-sengetik-ngetiknya. Ya sekali-kali jangan terlalu seurieus atulah.

040705