Rabu, April 27, 2005

Achevchenko!!


Image hosted by Photobucket.com
SETELAH berhasil membantai tim papan bawah, tapi punya sejarah bagus, Parma, setan merah harus bersiap laga di ajang Champion Eropa. "Chev! Hari ini loe istirahat ajah. Temui anak loe, kasihan kan ga pernah ditengokin," teriak Carlo sore itu selepas latihan panjang yang keras. Mobil opel pemberian team pun aku geber sampai limit. Rumah masih terlihat sepi, malam ketika aku sampai rumah. Tak ada tangisan bayi atau gongongan si Rover anjing kesayanganku.
"Honeey! Dimana kau?"
Suara sepi masih saja menjawab teriakanku. Tiba-tiba keluar perempuan tua yang gemuk dengan kakinya yang pendek tergopoh-gopoh sambil berceloteh dengan bahasa yang aku sendiri ga mengerti.
"Maap tuan, nyonya dan anak tuan lagi shopping," tutur Helen pembantu tua yang sudah 3 bulan dipekerjakan istriku.
Rasa malas menghinggapi badanku, sampai lidah pun malas berkata. Tak kugubris Helen dan akupun ngeloyor ke kamar. Sergio mendes kuputar dengan suara keras, Samba mengalir melalui gelas dan berhimpit dengan dinding. Kaca pun bergoyang-goyang, tapi tak lama, lima menit kemudian aku terkapar diatas sofa..tidur.
27/04/05
Suara nyanyian riuh memenuhi lorong sempit di pinggir lapangan. Asap merah masih mengepul.
"Dasar para ultras itu, dari mana mereka dapat tabung asap seperti itu?" tanya khakha, sobat sejak bermain di Kiev. Masih lidahku kelu, hanya senyum yang aku sisakan.
"Chev, nanti kau jangan terlalu maju, biar popo yang maju kedepan. Alihkan perhatian Goma, buat ruang bagi clarence, tapi tetap siap dengan serangan balik..." oceh tak henti Carlo.
Kebiasaan ngocehnya kian hari kian parah seiring masa akhir kompetisi dan liga.
Memasuki lapangan, hampir seluruh tifosi bertepuk dan bersuit. Hanya kadang masih terdengar suara terompet yang jauh dibawa dari kota Eindhoven.
....
30 menit berlalu, kaka semakin jarang memberikan umpan padaku. Mungkin dapat pesan dari Crespo. Tapi peduli setan, tugasku toh cuma berlari-lari mancing si Goma botak dengan bau badan menyengatnya itu.
"Chev, loe jangan terlalu individualist dong!" seru Paolo ketika kita berpapasan di sisi kiri lapangan. "Sekali-kali biarkan Andrea memberi umpan pada Crespo".
Sebuah bola matang datang dari kaka, bola demikian sempurna melaju ke arah kaki Crespo. Buk, suara sepatunya berhantaman dengan bola. Namun bola pelan tak mampu menembus keeper asing PSV yang aku sendiri tak tahu namanya.
"Jadi siapa yang individualist?" jeritku pada Paolo.
Sudah cukup semua orang menyebutku individualis, bahkan istriku menuduh aku terlalu individualist hingga tak ada waktu bersama dengannya. Bullshit! Setiap aku pulang ia selalu menghilang bahkan anakku yang bayi aja dia bawa entah kemana. Siapa yang individualist?
Setiap malam ketika anakku menangis, toh aku yang terbangun dan meninabobokannya, meski suara tangisan bayi itu mirip tuduhan istriku. Dasar Individualist! katanya berulang-ulang.
"Chev siap depan, aku kasih umpan terobosan!" seru Kaka dengan logat latinnya.
Menit 34 bola ditendang kiper. Andrea berhasil mengheadingnya kepada kaka. Bak refleks, ia meneruskan dengan umpan terobosan terukur tepat di depan kakiku, di antara himpitan Cocu dan Goma yang setia menguntitku.
Suara, tifosi semakin bergemuruh, terkadang terlihat kilatan cahaya dari kamera di depanku. Goma menempel dengan ketat. Peniup terompet dan penabuh dram terpekik memegang mulut menganga. Akan tetapi yang kudengar hanya tangisan si kecil dan ocehan istriku dengan diselingi gumaman Helen dengan bahasanya yang tak kumengerti.
Si Asing penjaga gawang mulai bergerak, sementara Goma tetap menempel, kulihat, kiri, kanan, tak ada kawan. hanya sekali kesempatan, si asing mencondongkan badannya ke kiri, itu dia.
Sepenuh tenaga, kaki ku tebaskan ke arah bola. Bola meluncur di atas tanah tepat di bawah pinggang si asing. Dari sudut mata kulihat Goma mulai berselaiding, tapi telat, bola pun gemilang menggetarkan jala.
Suara para tifosi memekakan telinga meneriakan gool. Momen indah, setiap suara terdengar jernih, setiap warna terlihat jelas. Siapa yang individualist?

1 komentar:

Dipersimpangan Rasta mengatakan...

Aku pikir, semua individualis. Tapi, saat aku memikirkan semuanya individualis, sepertinya kok biasa-biasa saja. Maka aku pun berpikir, tidak ada yang individualis. Tapi, setelah berpikir seperti itu, 'ah masa iya, sih?'
Maka aku pun akhirnya mencoba merasakan, siapakah yang individualis? Aku rasa, hanya pikiran kita saja yang individualis!