Jumat, Juni 03, 2005

Obituary #2

"Is this the world we created?..."
-Queen-

BUSWAY berhenti tepat di depan Bundaran HI. Senja menaungi langit kelabu Jakarta. Warna biru tua kelabu berubah menjadi keemasan. Pintu masuk bis sangat susah ditembus. Puluhan calon penumpang berwajah kamar mandi, senyum istri, pelukan suami, jeritan anak, rayuan pacar, kerling selingkuhan, bahkan berwajah nasi goreng, berjejalan memasuki bus yang sudah penuh sesak.
Beberapa calon penumpang masih tertinggal di boks busway. Suara orang nomer satu Ibukota, menyambut penumpang turun. Sementara, petugas keamanan berusaha memamerkan muka wibawa. Tapi, justru bibir monyong seorang ibu yang ia dapati. Pasalnya, hidung bengkok si Ibu terkena sikut sang petugas, entah sengaja atau kesengajaan tersamar.
Petugas tiket nampak memberikan ceramah kepada seorang calon penumpang tentang pentingnya uang pas. Sedangkan, sang calon penumpang terlihat menancapkan pandang pada belahan blouse seorang calon penumpang perempuan yang sibuk dengan sms di ponselnya. Hanya sebuah koran nasional nomer dua –dilihat dari gengsi maupun pendapatan iklannya- bertanggal kadaluarsa, mengangguk-angguk sendiri dihembus air conditioner ruangan.
Bau parfum menyeruak diantara berbagai sosok, bercampur baur; Channel, Dior, CK, Etternity, Bvlgary, sampai parfum murahan yang tak jelas mereknya. Bau minyak angin seolah tak mau kalah, sikut kiri-kanan menyingkirkan bau parfum occidental asal negerinya Albert Camus, Locke, dan tuan Bush Jr. Pusing memang, tapi setidaknya lebih baik ketimbang bau keringat atau knalpot.
Sementara itu, pemandangan sama terlihat di seberang jalan, baik kiri maupun kanan. Calon penumpang bus reguler, AC, patas biasa, maupun metromini dan kopaja, tampak berjejalan di shelter bus. Tiga orang calo penumpang, dengan bangga memperlihatkan koleksi dagangannya; para calon penumpang. Beberapa mobil taxi dengan malu-malu menggoda calon-calon penumpang tersebut dengan iming-iming tarif lama.
Tak kalah gencar, para pedagang asongan menjajakan tisue, air mineral, sampai rokok dan permen. Penjaja koran layaknya pastor, memberikan ceramah tentang ayat-ayat di headline surat kabar sore. Sedangkan surat kabar pagi mereka tawarkan dengan harga banting. Sesekali bus berhenti mengangkut calon penumpang, meninggalkan uang receh pada calo sebagai pembayaran atas ‘barang dagangan' mereka.
Gedung-gedung memamerkan kulit keemasan hasil sepuhan mentari senja. Demikian pula halnya air mancur seharga satu miliar di bundaran, turut berwarna emas tersorot lampu yang mulai menyala. Satu-persatu lampu jalanpun mulai berkedip. Melambaikan sinarnya, melepas surya yang beranjak ke peraduan malam.
Berbeda dengan penghuni boks busway lainnya, seorang gadis tampak berdiri di ujung boks. Ia tak menghadap pintu keluar masuk penumpang, malah berdiri di belakang rak koran nomer dua, menghadap kearah air mancur kebanggaan orang nomer satu ibukota. Rambut hitam panjangnya terurai menyelimuti punggung dan pinggangnya. Kedua telapak tangannya menempel pada kaca boks, sedang tas kecilnya yang berwarna merah muda tergantung di bahu, menyelip di ketiak kanannya.
Sebuah jepit perak, berkilau memantulkan sinar mentari, terselip di rambut sisi kiri kepalanya. Cardigan berwarna pink, terbuat dari bahan wol, membalut tubuhnya secara ketat. Rok pendek berwarna hitam semakin menegaskan putihnya warna kulit paha dan betisnya. Sebuah stiletto berbahan plastik transparan menyangga kaki munggilnya. Bak seorang malaikat, hendak terbang memeluk patung selamat datang di atas tugu di tengah air mancur bundaran.

"Aku sangat suka senja!"

Sebuah suara mezzo sofran tiba-tiba menyembul dari balik rambut hitam tebal tersebut. Bak hymne senja, sekejap memuja keindahan gambar dengan dominasi warna emas.
Kerumunan calon penumpang seolah tak tersentuh merdunya hymne. Mereka lebih terfokus pada hiasan yang menempel di wajah-wajah mereka, terbius dan mabuk gado-gado parfum dan minyak angin. Petugas satpam semakin mantap dengan aksi ‘kharismatik'-nya. Sementara petugas tiket tampak jengkel memandang wajah calon penumpang yang sedang mengira-ngira ukuran beha seorang calon penumpang perempuan yang masih sibuk dengan sms di ponselnya.

"Di sini, aku lebih suka senja daripada pagi hari! Aku ingin membingkai senja ini untuk dipasang di kamarku! Aku ingin senja ini tak berakhir. Aku sangat suka senja!"

Hymne senja dari balik rambit hitam terurai, kembali terdengar. Namun, suara mezzo sofran tersebut tetap tak berefek. Layaknya detak jam weker, dianggap tak ada, tak perlu didengar, tak berguna, dan tak bermakna. Hanya koran nomer dua, seperti mengamini, mengangguk-anguk tertiup air conditioner boks busway.
Tiba-tiba sebuah lagu khas ponsel produk Finlandia bergaung nyaring di dalam boks busway. Sontak beberapa orang meraba saku, ada yang membuka tasnya, ada yang melihat gantungan kalungnya, ada pula yang hanya diam tak bergeming.
Sang Gadis melepaskan telapak tangannya dari kaca. Ia meraih tas kecilnya yang berwarna merah muda.

"Iya Mas,... iya... aku lagi on the way home kok!... Bye!"

Para calon penumpang kembali tenang. Perhatian mereka kembali tertuju pada pada pintu otomatis. Sementara pikiran mereka tetap pada hiasan di wajah mereka. Orang nomer satu masih membanggakan programnya dari layar datar televisi.
Sebuah bus berwarna oranye berhenti di depan pintu. Beberapa orang penumpang turun diatur petugas keamanan. Para calon penumpangpun berebutan memasuki bus. Seperti refleks, sang gadis ber-cardigan pink menyelinap di antara para calon penumpang. Seorang pria setengah baya nampak berusaha gentle memberinya jalan. Sang gadis hanya mengangguk dan menyelipkan senyum dari bibir berpulas merah darah, di wajahnya.
Hanya berselang detik, buspun kembali melaju ke arah jalan Jenderal Besar Sudirman. Senja semakin lemah menebar cahaya keemasan. Hanya beberapa buah awan masih menyimpan kejayaannya. Tinggalah malam, kebingungan dituduh lampu jalanan. Merindukan hymne yang hanya dimiliki senja. Menyembunyikan gemintang, ditindas semburat cahaya lampu ibu kota.

abdisalira©030605
Pour la nuit passeur

1 komentar:

Dipersimpangan Rasta mengatakan...

Aih aih aih.... Kenapa tanggung 'loncat'-nya, Men. Obituari dan Obituary#2, kesimpulan sama. Aku masih tak tahu pasti, apakah kau ingin menceritakan perempuan-perempuan fiktif didalam boks (entah kenapa kau beri nama 'boks', apakah tak ada sebutan yang lebih tepat, jika ingin melangkah ke realis atau semi-realis) atau apa yang dialami narator itu sendiri?
Kalau yang pertama, betapa sayang kiasan suasana yang tidak menyatu dengan tokoh-tokoh itu. Kalau yang kedua, lumayan. Tapi, kurang 'loncat'.

Setidaknya, aku merasakan itu ketika membaca Obituari, -#2.

Hidup Susiyoto!!!!