Kamis, Juni 30, 2005

Bukan Obituary


Image hosted by Photobucket.com


LANGIT Bandung begitu cerah. Warna biru mendominasi di antara bintik-bintik putih yang terlihat sangat jauh. Angin kencang menerpa wajah, terasa segar dipanasnya terik mentari. Deretan hijau tampak berarak di sepanjang jalan Djuanda, Hasanudin, Ganesha, dan Tamansari.

Menerobos pekatnya udara Bandung, kesegaran menguap, tinggal sesak menjejali semua jaringan di paru-paru. Secuil kenyamanan hanya terselip di rimbunnya dedaunan. Alhasil, belasan kepala manusia terlihat bersembunyi di bayangan pohon. Suara berbagai kendaraan mulai memekakkan telinga. Dari desing udara tertumbuk mobil yang dibesut dengan kecepatan tinggi, sampai teriakan beberapa kernet angkot yang mengecil seiring menjauhnya mobil.

Sebuah ranting kecil terlihat begitu lapang, menjorok di sela-sela dedaunan. Beberapa ekor semut merah berbaris mengangkut berbagai bawaan. Sedangkan sebagian lainnya seperti sedang bersalaman atau hanya sekedar menanyakan kabar, basa-basi. Bak restoran mewah yang menyajikan hidangan segar penuh nutrisi, saatnya makan siang.

“Aaagh! Roti isi ini sudah busuk dagingnya!“

Sebuah suara bariton menggelegar dari arah tepat di bawah pohon. Sepasang manusia tampak duduk di atas sehelai tikar plastik. Laki-laki berambut acak-acakan dengan jenggot jarang-jarang, belepotan dengan remah-remah roti di sela-sela kumisnya yang juga jarang-jarang.

Kemeja flanel merah kotak-kotak tergantung di bahunya. Ia sendiri hanya mengenakan kaus dalam tipis, basah oleh keringat. Celana jean belel bolong-bolong, tak kuasa dibendung beberapa benang jahit yang disulam secara acak. Sebatang rokok kretek terselip di kuping kirinya. Ia memuntahkan roti isi yang sempat menerobos mulut dan hancur digilas gigi-giginya yang kuning kecoklatan.

“Masih baru da kang! Baru kemarin Eneng beli di minimarket sebelah kontrakan kita. Masa sudah busuk lagi?“

Suara sopran menyembul dari kepala berambut hitam legam yang menjuntai di atasnya. Hitam legam dengan bayangan cahaya matahari di sela-selanya. Kaus oblong berwarna merah darah membungkus tubuhnya yang tampak ramping, atau bisa dibilang kurus kering. Akan tetapi, dari nada suaranya, perempuan itu nampak sebagai sosok ibu yang sabar sedang mengasuh anaknya yang rewel.

Kedua manusia tersebut tengah menghadapi hidangan sederhana murahan yang berserakan di atas tikar plastik yang juga bolong-bolong. Beberapa helai daun rerumputan menyembul dari lubang di tikar tua yang mereka gunakan sebagai alas duduk mereka. Ah, inikah yang mereka katakan sebagai piknik di hari libur. Tamasya murah di pinggir jalan sepi di kota Kembang ini. Piknik khas orang-orang udik yang tersingkir di antara gemerlap berbagai mall, plaza, factory outlet, distro, dan restoran-restoran orang Jakarta yang disediakan bagi orang Jakarta lainnya yang selalu rajin mendatangi kota kecil di lembah Tangkuban Perahu ini.

“Babi! Kenapa kau belanja di minimarket itu? Kan aku udah bilang, mereka itu penjahat. Kan mereka juga yang menggusur warung kecil kamu. Kenapa harus belanja di tempat para penjahat kapitalis itu?!“

“Hei ari si Akang, kan tempat itu paling dekat dari kontrakan kita, lagian disana mah murah-murah atuh Kang. Eneng suka belanja di sana teh, soalnya komplit. Pake ada baju-baju buat bayi segala. Siapa tahu, kita punya anak atuh Kang, ...“

Tiba-tiba omongan perempuan tersebut terhenti entah kenapa. Sang pria berdiri, menyalakan rokoknya, terus ngeloyor pergi.

“Maap kan Eneng Kang! Bukan maksud menyinggung hati Akang, KAANG....!“

Perempuan muda, turut berdiri mencoba mengikuti suaminya. Mereka meninggalkan hidangan murahan di atas tikar yang juga murahan, begitu saja. Roti isi dan minuman kemasan dibiarkan tergeletak, merana ditinggal tuannya. Begitupun tas butut berisi tisu toilet dan buku-buku catatan lusuh terdampar di pinggir tikar.

Deru angin kembali menerpa wajah. Jalan-jalan di kota bandung masih terlihat padat. Di kabel telepon yang melintang tampak berjejer burung gereja, bercengkrama, bergosip, entah apa yang digosipkan. Mungkin sedang merencanakan cicilan sarang yang semakin susah diwujudkan karena jarangnya ranting dan rumput sebagai bahan bakunya. Tak jauh dari kabel telepon, sebuah jendela kaca besar terbuka lebar. Di bawahnya terdapat genangan air dari talang yang mampat. Hmmh minuman segar di keringnya udara Bandung yang membakar tenggorokan.

“BUKA PINTUNYA!“

Sebuah teriakan disertai gedoran pintu terdengar dari dalam jendela yang terbuka.

“KALAU TIDAK DIBUKA, AWAS KAU! ANAK KEPARAT! MEMALUKAN ORANG TUA!“

Suara seorang pria dengan bass besar menggetarkan setiap telinga yang mendengarnya. Seorang anak laki-laki menyembulkan hidungnya di jendela, diikuti wajahnya dengan pandangan yang nanar. Matanya bergerak ke kiri kanan jalan yang terdapat tepat di bawah jendela dengan genangan dari talang yang mampat. Kakinya tampak menyembul di kusen jendela yang tak berteralis. Suara musik tekno dari sebuah tape berlomba dengan teriakan pria tua dan deru kendaraan di kejauhan.

Jendela tersebut terdapat di lantai tiga samping sebuah rumah besar yang diselingi jalan setapak kecil yang tak muat menampung dua orang manusia yang melintas berlawanan arah. Hanya tembok dan atap sebuah rumah satu lantai terpampang, bila pandang diarahkan ke bawah jendela rumah tersebut.

“BAGAIMANA BISA MASUK ITB, UAN SAJA TIDAK LULUS? BUKA! BIAR KUHAJAR MULUT TUKANG MABUKMU ITU! ANAK DURHAKA!“

Teriakan keras kembali terdengar, berbarengan dengan gumaman seorang perempuan yang ditindas suara bass pria tersebut. Gumaman tersebut tak terdengar jelas, namun terdengar seperti bujukan menenangkan dari seorang ibu yang membela anak kesayangannya.

Anak laki-laki itu berjongkok di jendela, entah ketakutan atau senang. Soalnya, dari mulut hitamnya tersungging sebuah senyuman. Ya senyuman getir sedikit sinis. Kemudian ia berdiri di kusen jendela yang cukup lebar tersebut dan meregangkan tangannya seperti hendak terbang.

BRUAAAK!!

Sebuah suara keras meledakan suasana. Bersamaan dengan suara tersebut, anak laki-laki tersebut menjatuhkan diri, begitu tiba-tiba sehingga berhamburan burung gereja dan kucing yang sedari tadi mengendap-endap mengincar burung gereja. Badan anak itu menukik deras menjelang gang sempit di bawahnya.

“TIDAAAAK!“

Suara sepasang manusia ber-choir meneriakan hal yang sama mengantar tubuh anak laki-laki yang sudah berada sejajar dengan lantai dua rumah besar tersebut.

BRUAAAAAKKKS! BRUUUK! BDUB!

Badan anak laki-laki itu menimpa genteng rumah tetangganya, terbanting lalu, berdebum jatuh, menimpa dasar gang sempit dari bahan semen. Tangannya menekuk aneh, tubuhnya pun meringkuk dengan posisi yang tak kalah aneh di gang sempit. Akan tetapi raungan anak itu, membuktikan satu hal, upaya bunuh dirinya telah gagal.

“BRENGSEK! DINASIHATI MALAH MAU KABUR, PUAAAS!

Suara pria tua dengan kumis tebalnya kembali terdengar menggema di gang sempit. Dari ujung gang, beberapa orang manusia berhamburan mendekati tubuh anak laki-laki yang meraung-raung kesakitan. Perempuan yang menyertai pria di lantai tiga tadi muncul pula di antara kerumunan tetangganya.

“BIARIN! JANGAN DITOLONG! BIAR TAHU RASA DIA! ANAK SETAN!“

Teriakan pria tua tersebut semakin menjadi-jadi dengan telunjuk menuduh-nuduh ke arah si anak yang masih saja meraung-raung kesakitan.

Suara kendaraan dan bunyi kelakson masih saja terdengar bersahutan di kejauhan. Mentari seperti penasaran mengarhkan pandangnya ke kerumunan orang di gang sempit. Panasnya kian menjadi-jadi. Dasar manusia sudah pada gila!

Di ketinggian, awan-awan kecil kesepian mengisi langit. Tak ada elang, tak ada rajawali, hanya ada burung gereja yang menyembunyikan dirinya di sela pepohonan yang juga sudah jarang. Angin berasap kembali menerpa wajah. Saatnya menjenguk anak-anak yang tertinggal di sarang.

030705 © abdi salira

1 komentar:

Dipersimpangan Rasta mengatakan...

Alo, Batman. Begini, ini cerita mungkin agak susah kunalar. Perpindahan dari piknik ke rumah melalui angkasa, deskripsi kicauan burung gereja di rentangan kawat listrik entah telepon, agak janggal. Memang aku pun kalau disuruh buat cerita begini agak susah menuntaskannya, mungkin ini sekedar apologia-ku, agar lebih berpikir objektif saja.
Dan, mengapa seakan tidak ada permasalahan mendasar yang menjadi ciri khas. Engkau ingin berbicara kapitalis, pendidikan yang mahal--tapi kenapa si anak malahan tidak lulus, bukankah lebih padat kalau si bapak yang bunuh diri. Atau kalau si anak itu yang berpikir lebih baik tidak lulus sebab bapakku pasti tidak mampu membiayai kuliah, atau ; (?) lu punya alasan tersendiri?