Jumat, Agustus 05, 2005

Blue Note


MEMASUKI bus patas AC jurusan Depok-Kalideres, gerah menjadi raib, keringat terasa sirna, dan letih pun sedikit teralih. Suasana bus begitu sepi, beberapa pria terantuk-antuk menahan beban kepalanya yang seakan ingin menggelinding. Wajah seorang nenek tarsandar nanar menatap arah seakan berserah.
Seorang pemuda dengan dandanan perlente, membolak-balik koran seakan mencari kata-kata tersembunyi dibalik lembaran lusuh koran nomor satu di negeri ini. Kakinya menggantung di sandaran kursi depannya, tak muat untuk menapak lantai bus yang terbuat dari lempengan besi. Sepasang muda, dari tampilannya bisa dipastikan berstatus mahasiswa, asyik bercengkrama. Saling elus, saling cubit, saling bisik, takut pembicaraannya terdengar orang lain. Padahal, tingkah mereka mengabarkan kebebasan seolah merekalah pemilik dunia yang sumpek ini.
Dua orang pria setengah baya yang naik dari pintu belakang langsung mengambil posisi di kursi kosong. Secara otomatis, mereka menyandarkan kepalanya, menutup mata dengan diantar helaan nafas panjang. Bak melepas beban yang mereka pinggul seharian di luar bis. Tak berapa lama, hembusan nafas teratur mengalir dari kedua lubang hidung dan mulutnya.
Suasana begitu tenang, hanya terdengar sayup-sayup suara kondektur memuntahkan beberapa nama tempat yang kebetulan terlintasi bis. Aku pun duduk di bangku sebelah kiri yang mempunyai dua kursi tepat di sebelah sepasang muda yang sedang bercengkrama.
Di sebelahku, seorang gadis manis berambut hitam legam yang dijepit sebagian sedangkan sebagian lainnya dibiarkan terurai melintasi dahinya. Kemeja putih membalut tubuh disambut rok mini berwarna coklat muda tak kuasa menutupi kulit langsat di paha sang gadis. Sebuah tas bernuansa gading teronggok di pangkuannya. Sedangkan sebuah blazer, juga berwarna coklat muda, kepayahan menggapai tali tas kecil karena sebagian darinya telah terjatuh menimpa betis dan sepatu hak tinggi berwarna hitam.
Dari balik kacamatanya, bulu mata lentik terkatup tenang melabeli kepala indah yang tertopang lengan munggil, tersandar di dinding dekat jendela bis. Sebuah pemandangan indah pikirku. Seorang bidadari yang terlena damai setelah seharian bercanda di balik pelangi dan mandi di sebuah telaga.
Aku selalu terpesona dengan pemandangan seperti itu. Seorang pejuang perempuan yang berusaha menghiasi hidupnya dengan makna. Ia tak kenal lelah menggapai beberapa mimpinya, hingga kelelahan tersebut menerjangnya. Kantuk memeluk diantara hembusan udara sejuk dari lubang-lubang AC yang berjajar di atap bis.

**

"UNTARI!! Mana berkas tadi? Kenapa belum kau selesaikan juga?"
"Sudah kok Mbak. Aku sudah menaruhnya di atas meja, di balik map merah yang ada di sudut meja Mbak" jawab Untari.

Untari masih saja sibuk dengan beberapa kertas kecil, memberinya cap dan menjepitnya dengan kliper dan menyusunnya di meja. Blazer coklat mudanya masih terlihat rapi, meski gerakannya sangat gesit. Keselarasan tersebut seolah telah dilatihnya secara intensif sehingga dalam kesibukan apapun ia akan selalu tampak anggun dan ramah.

"UNTARI!! Kemana kuitansinya? Mestinya kan sudah terlampir bersama berkas ini!"
"Ini Mbak, aku sudah memberinya cap stempel dan telah menyusunnya. Maap tadi banyak sekali telepon yang masuk"

Untari tergopoh-gopoh memasuki ruangan asal suara keras tadi memanggilnya. Ia berlari kecil, rambutnya beriak-riak seiring gerakan lembut sepatu hitam berhak tinggi yang mengantarnya menjelang pintu bertuliskan Direktur "Operasional".
Sekeluarnya dari ruangan tersebut, Untari kembali tenggelam di antara tumpukan berkas yang tak henti bertambah seolah enggan untuk sirna. Kemudian seorang perempuan setengah baya mengikutinya. Ia mengenakan blazer merah menyala, dengan make-up yang tebal lengkap dengan lipstik, tak mau kalah, juga berwarna merah darah.

"Tari! Saya harus ketemu Bos dulu, jika ada tamu, bilang saya langsung pulang ke rumah ya! Kamu selesaikan berkas-berkas tadi, jangan lupa kirimkan surat-surat dan e-mail yang saya bikin di komputer!"
"Baik Mbak".

Untari mengantar perempuan tersebut hingga keluar, selanjutnya ia kembali berkutat dengan tugas-tugas yang menjadi warisan bosnya. Sesekali, dering telepon memaksanya mengambil jeda untuk kemudian kembali tenggelam dalam pekerjaannya tersebut.
Detik demi detik menjadi menit, menjadi jam, hingga sorepun tiba. Setelah seharian menulis, mengetik, membolak-balik berkas dan keluar masuk ruangan direktur, Untari hanya menyisakan sebuah berkas di mejanya. Suasana ruang kantor masih terasa sepi, di ruangan itu hanya ada dia dan bosnya.

"Hi Tari! Susi masih ada?"

Sebuah suara bariton meledakan konsentrasi Tari. Sontak ia berdiri dan beberapa langkah mundur, sehingga kursi di belakangnya terjengkang.

"Eh Ba.. ba.. pak. Ka.. ka..pan datang Pak?"
"Baru saja, by the way Susi mana?"

Pria tersebut mendekati meja, tangannya menjulur mencoba menggapai Untari.

"Eh maap pak, mbak Susi sudah pergi, katanya mau langsung pulang."
"Waah kebetulan. Tinggal kita berdua dong."

Pria berbadan gemuk besar tersebut berhasil memegang lengan Untari. Dengan bernafsu ia berusaha menarik tangan munggil tersebut.

"Apa-apaan sih Pak. Awas nanti saya bilang istri bapak!" ancam Untari.
"Bilang aja, paling kamu nanti dipecatnya. Kamu tahu kan bapak suka sekali sama kamu sejak pertama ketemu. Sudahlah, kamu mau apa? Pasti saya beri."

BRUAAANG!

Tiba-tiba suara kencang terdengar. Dengan sekuat tenaga Untari telah melemparkan vase bunga. Vase itu menimpa bahu pria tersebut kemudian hancur lebur menimpa lantai dari bahan keramik. Air, bunga, dan pecahan gelas berserakan di lantai, tepat di depan pintu yang telah terbuka dengan seorang perempuan yang memajang tampang menganga di wajahnya. Seketika segalanya seperti terkena kutukan, musnah kata, hanya kebekuan memenuhi ruangan.

**

Every litlle thing she does is magic.. Suara Gordon Matthew Sumner tiba-tiba menyeruak dari tas gading sang gadis yang sedang terlelap. Gadis itu hanya membuka matanya, namun selang beberapa detik ia merogoh tas kecilnya. Ia menimang-nimang K 750i miliknya, entah menikmati lagu atau menghitung berat HP berwarna hitam tersebut. Selanjutnya melepaskan kacamata dengan batang berwarna coklat dan menempelkan HP ke telinga polos, tanpa anting.

"Iya Kang, ada apa?"
...
"Aku lagi di bis, sejam lagi sampai."
...
"Ngga apa-apa kok, besok aku ga kerja.."
...
"Ngga kok Kang, aku nggak sakit, ..."
...
"Bukan! Bukan cuti, ... aku berhenti"
...
"Nanti aja ya Kang, aku lagi di bis. Nanti aku ceritakan"
...
"Bye"

Setetes air jatuh menimpa layar HP. Diikuti tarikan berat nafas, memulas kedamaian wajah sang gadis dengan goresan kegundahan. Tetap, wajah itu masih menampakan keayuan yang bisa menghisap pandang setiap pejantan.

"GROGOL SIAP-SIAP, YANG GROGOL SIAP-SIAP!"

Suara kondektur bis tiba-tiba memecah suasana. Sepertinya, itu tanda bagi sang gadis untuk bangkit dari kesenduannya. Ia melipat blazer coklat mudanya. Kemudian berdiri, menitipkan senyumnya di mataku.

"Permisi Mas?!"
"Oh iya, a..aku juga turun di sini kok" jawabku gagap.

Menerobos tubuh-tubuh manusia yang secara cermat ditata sang kondektur bukan hal mudah. Sang gadis mengikutiku, memanfaatkan hasil kerjaku menyingkap jalur menuju pintu keluar.

"GROGOL HABIIIS!"

Aku pun menapakan kakiku di aspal. Udara dingin AC berubah drastis dilibas udara Jakarta yang hangat. Kayu bakarnya, tentu saja, asap dari knalpot kendaraan-kendaraan yang berbaris tak beraturan di jalan-jalan Jakarta.

"Terima kasih Mas"
"Oh iya sama-sama"

Setelah meluncurkan kata tersebut, sang gadis melangkah menjelang jembatan penyeberangan. Setiap langkahnya memberikan ketukan yang menghipnotis pandangku untuk membuntutinya. Di sela jeruji jembatan, sosoknya terlihat melangkah gemulai dan anggun dihiasi rona sinar mentari senja yang keemasan.
Grogol masih saja semrawut, pedagang-pedagang asongan, kaki lima, dan pejalan kaki berebutan di lahan trotoar yang tak seberapa luas. Menjadi lahan empuk bagi para pencuri dan pencopet. Namun, hari itu hanya satu pencuri yang berhasil mencuri dariku. Seorang pejuang yang terlelap dihunjami desiran udara AC. (*)

Kantor Redaksi Koran Nomor Dua
abdisalira©050805

1 komentar:

Dipersimpangan Rasta mengatakan...

Aih, kali ini terasa beda ngebaca cerita atau kisah pahlawan Gotham City, Batman. Biasanya, aku kebingungan. Tapi, sekarang sudah lebih terang nan jelas plus berkesan. (Aih, aih... melankolis sekaleeee)

Kisahnya sederhana. Hasrat yang tercuri oleh ke-diam-an. Bukankah ada pose interaktif yang lebih menarik di dalam bus, Depok-Kalideres? Ah, tampaknya sesuatu yang tragis memang menjadi pilihan populis. Dan, kisah atau cerita ini setara dengan kehidupan nyata. Tidak ada cinta yang hadir. Semua martir, menjalani kehidupan dan permasalahan sendiri.

Meski begitu, Man, aku merasa agak 'kisruh' sedikit. Lompatan ke 'imajinasi' entah itu berasal dari penulis dalam posisi sebagai 'God' atau 'imajinasi' tokoh, kabur. Walaupun tetap jalurnya tetap, Depok-Kalideres.

Sayangnya, komentar ini harus aku sudahin sebelum ngelantur terlalu jauh. Ok, Man!